Kenyataan saham di lapangan

thereds.me
Kenyataan saham di lapangan

1. Masih Ditemukan Saham atas Tunjuk

Seperti disebutkan di atas bahwa UUPT menghendaki saham se­ mua perseroan jenisnya saham atas nama, dan sejak berlakunya UU No. 40 Tahun 2007 tidak dikenal lagi saham atas tunjuk. Namun da­ lam kenyataannya di lapangan masih ditemukan saham atas tunjuk yang beredar di masyarakat, bahkan dijadikan objek transaksi bisnis (jual beli maupun jaminan utang).

Beredarnya saham atas tunjuk tersebut dapat terjadi karena pener­ bitan saham dilakukan sebelum berlakunya UU No. 40 Tahun 2007. Kemudian disebabkan sejumlah perseroan yang berdiri pada waktu itu bersikap pasif dan tidak mengubah anggaran dasarnya setelah terjadi penggantian UU No. 1 Tahn 1995.

2. Saham belum dicetak

Selain itu, di lapangan juga ditemukan sejumlah saham belum di­ cetak oleh perseroan sehingga belum diserahkan kepada pemiliknya. UUPT memang tidak dengan tegas menyebutkan dalam salah satu pasalnya bahwa saham perseroan harus dicetak. Juga tidak diatur pula mengenai batas waktu saham harus dicetak oleh perseroan.

Namun apabila dilihat dari ketentuan Pasal 48 ayat (1) mengenai jenis saham berupa saham atas nama, Pasal 49 ayat (1) nilai saham dengan nilai rupiah dan dihubungkan dengan Pasal 51 UUPT yang mengatakan, bahwa pemegang saham diberi bukti pemilikan saham yang dimilikinya, maka sesungguhnya UUPT menghendaki saham perseroan dicetak dan dipegang oleh para pemiliknya.

Dari pengaruh tidak tegasnya UUPT tersebut berakibat sejum­ lah perseroan sampai kini masih ada yang belum/tidak mencetak atau menerbitkan sahamnya dan hal ini tampaknya tidak dapat dipaksa oleh pihak di luar perseroan termasuk pemerintah. Untuk kepentingan ke­ butuhan praktik sebagai bukti seseorang adalah sebagai pemegang sa­ ham diberikan resipis oleh perseroan. Resipis merupakan bukti pem­ bayaran setoran saham yang nantinya dapat ditukarkan dengan saham atau surat saham (Giovani, 2009).

Meskipun yang bersangkutan dapat menunjukkan resipis, dan pa­ da kenyataannya perseroan belum pernah memberikan saham, maka secara yuridis pemegang saham belum memiliki saham secara fisik. Dari segi pembuktian resipis hanya membuktikan bahwa pemegang­ nya telah menyetor modal ke dalam perseroan yang nilainya seperti yang disebutkan dalam surat bersangkutan.

Oleh karena saham belum diterbitkan dan pemegangnya hanya diberi resipis, apabila perseroan membuat daftar pemegang saham, dan isinya menyebutkan sejumlah orang memiliki saham sekian lem­ bar, maka daftar tersebut dapat dikatakan masih belum akurat karena datanya hanya disusun berdasarkan “perhitungan sementara di atas kertas”, bukan didasarkan atas kenyataan jumlah lembaran saham yang merupakan bukti atau fakta yang sebenarnya.

Selain itu saham yang belum diterbitkan dapat dilakukan transaksi bisnis, yaitu jual beli maupun jaminan utang hanya dengan menggu­ nakan resipis dan dalam kenyataannya dapat dilakukan serta diper­ caya kebenarannya. Walaupun transaksinya dapat dilakukan dengan lancar namun dari segi yuridis, sesungguhnya belum dapat dikatakan transaksinya mengenai saham, karena objeknya bukan saham dan sewaktu transaksi dilakukan sahamnya memang belum pernah ada.

SAHAM TERMASUK SURAT BERHARGA

Menurut Prodjodikoro (1992:34), istilah surat berharga itu ter­ pakai untuk surat­surat yang bersifat seperti uang tunai, yang dapat dipakai untuk melakukan pembayaran.

Pengertian surat berharga atau commercial paper merupakan alat bayar dalam transaksi perdagangan modern saat ini. Surat berharga ini digunakan sebagai pengganti uang yang selama ini telah digunak­ an sebagai alat tukar dalam perdagangan khususnya oleh kalangan pebisnis atau para pengusaha. kegiatan bisnis atau objek perjanjian, sehingga lebih menguntungkan dan lebih bervariasi (Emeirzon, 2001: vii).

Adapun pengertian Pasal 1 butir 10 UU No. 10 Tahun 1998 jo. UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, surat berharga adalah surat pengakuan utang, wesel, saham, obligasi, sekuritas kredit atau setiap derivatif dan surat berharga atau kepentingan lain atau suatu kewajib­an.

Dari pengertian di atas terlihat bahwa pengertian surat berharga mengalami perkembangan karena ruang lingkupnya diperluas. Da­ hulunya surat berharga sebatas pengganti uang seperti cek, wesel, obligasi, dan giro yang berhubungan dengan bank, tetapi kemudian diperluas dengan memasukkan saham di dalamnya. Saham dimasuk­ kan sebagai surat berharga, karena surat tersebut memiliki nilai eko­ nomis dan dapat diperjualbelikan pada tingkat harga tertentu sehingga seorang pemegang surat berharga dapat memperoleh keuntungan atas jual beli surat berharga tersebut (http://asosiasiguruekonomi.files. wordpress.com).

Nilai ekonomi saham tergambar pada isi saham yang wajib men­ cantumkan nilai nominal saham dalam rupiah (Pasal 49 UU No. 40 Tahun 2007), sebab tanpa nilai nominal saham tidak dapat diterbit­ kan. Setiap lembar saham mempunyai harga pasar, yang bila dikalikan dengan jumlah lembar saham akan diperoleh harga pasar agregat atau disebut juga nilai pasar (http://www.elearning.gunadarma.ac.id). Jika seseorang misalnya memiliki saham sebanyak 100.000 lembar dan se­ tiap lembar nilai nominalnya Rp10.000.00 maka nilai pasarnya sebe­ sar Rp1.000.000.000.00. Meskipun demikian dapat terjadi harga jual saham lebih rendah daripada harga pasar, hal ini dipengaruhi oleh ke­ sepakatan antara penjual dan pembeli saham.

Pergerakan harga di pasar saham sangat sulit ditebak, sehingga para pakar pasar modal mengatakan bahwa harga suatu saham, pada suatu saat telah mencerminkan segala sesuatu yang diketahui tentang saham tersebut pada saat tersebut. Ini menjelaskan bahwa pergerakan harga menjadi sulit untuk ditebak (Fahmi, 2006:14). Saham dikenal dengan karakteristik “high risk-high return” yang merupakan surat berharga yang memiliki risiko tinggi tetapi memberikan peluang keun­ tungan yang tinggi pula. Saham memungkinkan pemodal mendapat­ kan return atau keuntungan (capital gain) dalam jumlah yang besar untuk jangka waktu yang cukup singkat (http://repository.usu.ac.id).

Dalam draft awal Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, antara lain menyebutkan saham hasil pem­ belian kembali yang dijual di luar Bursa Efek wajib dijual pada ni­ lai pasar wajar dan tidak lebih rendah dari harga pembelian kembali saham tersebut (http://www.bapepam.go.id). Hal ini menunjukkan bahwa adanya kehendak untuk melindungi pemegang saham tidak dirugikan oleh perseroan yang membeli kembali saham­sahamnya.

Menurut Prof. Dr. Slamet Sugiri, M.B.A (Guru Besar Ilmu Akun­ tansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM), sebelum seseorang mengambil keputusan investasi dalam sekuritas, ekuitas, investor atau calon investor disarankan untuk membandingkan antara nilai intrinsik saham dan harga saham yang terjadi di pasar. Nilai intrinsik saham harus ditentukan lebih dahulu dengan melakukan analisis terhadap faktor fundamental perusahaan. Salah satu dari faktor tersebut yaitu laba perusahaan (http://feb.ugm.ac.id).

thereds.me

Belum ada Komentar untuk "Kenyataan saham di lapangan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel